Gaya Hidup Minim Sampah Makanan Dimulai dari Rumah, Mau Tahu Caranya

gaya hidup minim sampah
gambar dari pixabay

Gaya hidup minim sampah makanan dimulai dari rumah. Bisakah itu dilakukan? Jawabnya sangat bisa. Pembiasaan dari rumah, dimulai sejak dini akan membuat habit itu terjaga hingga sepanjang usia. Saya sudah mempraktikkan gaya hidup minim sampah sejak masih kanak-kanak lho. Hal itu berlanjut hingga usia sekarang.

Permasalahan Sampah Makanan

Berdasarkan riset dari databoks.katadata.co.id, 60% sampah di Indonesia berasal dari sampah makanan organik. Artinya setiap hari sampah organik makanan menjadi penyumbang menumpuknya sampah di Indonesia. Padahl, sampah ini bisa diolah menjadi kompos dan sebagainya.

Sementara sampah palstik, kertas, karet, dan lainnya menjadi penghasil sampah nomor dua. Persoalan sampah memang bukan hal yang main-main. Tidak hanya sekadar slogan atau sebatas kurikulum di sekolah. Namun, dari rumah perlu dilakukan pembiasaan baik soal sampah agar persoalan sampah menjadi terurai.

Sampah Perumahan

Sebagai warga yang tinggal di perkotaan, persoalan sampah bukan hal sulit. Saya termasuk warga yang paling sedikit mengeluarkan sampah di tempat sampah. Tukang sampah paling senang lewat rumah saya. Terkadang tiga hari baru ada sampah di tempat sampah saya.

Mulai dari Rumah

 

Sudah hampir 2 tahun saya berusaha mengurangi sampah makanan. Ketika memasak, potongan sayur yang tidak bisa dimasak, kulit sayuran, kulit buah, kulit bumbu, saya masukkan dalam wadah khusus. Ketika sudah penuh saya buang di pelataran rumah yang sudah ditumbuhi cabai. Praktis kan?

Enggak hanya sisa sayuran, sampah sisa makanan yang tidak termakan, seperti potongan cabai, tulang, semua saya buang di pelataran depan. Saya biarkan terkena hujan tanpa ditutupi tanah.

Apakah menimbulkan bau? Jelas tidak. Paling hanya membuat hewan datang. Itu pun paling sehari dua hari. Selebihnya sampah itu akan mongering dengan sendirinya. Lambat laun bisa menjadi pupuk bagi tanaman cabai dan tumbuhan lainnya.

Sampah Pembungkus Makanan

Diet plastik sudah saya terapkan sejak lama. Sebisa mungkin saya menolak plastik untuk membungkus sayuran. Di Pasar Gotong Royong dekat rumah, para pedagang sayur sudah menggunakan kertas untuk membungkus sayuran. Saya pun membawa tas belanja dari rumah. Otomatis tidak ada sampah plastik. Hanya beberapa jenis bahan makanan tertentu yang masih menggunakan plastik.

O, ya, di rumah sampah pembungkus makanan saya gunakan untuk wadah tanaman pokcay. Saya menyulap wadah minyak dan beras sebagai media tanaman pokcay. Tinggal isi tanah dicampur kompos dari sisa sayuran, jadi deh. Lihatlah tanaman pokcay ini. Subur kan?

Tidak ada Kulkas

Bila rumah tangga lain menggunakan kulkas untuk menyimpan makanan, di rumah saya justru kulkas tidak ada. Saya dan suami memang memutuskan tidak memakai kulkas dulu, apalagi kami (saya dan suami) masih berdua. Keberadaan kulkas belum begitu penting.

Keberadaan kulkas hanya akan membuat saya menimbun makanan. Hal itu justru akan membuat mubazir kalau makanan yang ada tidak terolah.

Mengolah Kembali Sisa Makanan

Sebenarnya sejak punya rumah sendiri, sebisa mungkin saya masak sesuai kebutuhan. Prinsip tidak boleh ada makanan bersisa di malam hari. Namun, terkadang satu dua kali ada sisa makanan. Biasanya karena banyaknya komdangan atau makan di luar rumah.

Solusinya mengolah sisa makanan tersebut. Seringnya mengolah nasi menjadi kerupuk legendar. Sengaja di rumah saya menyediakan obat legendary dalam jumlah kecil. Biar kalau pas ada sisa nasi, bisa diolah menjadi legendar.

Cara lain adalah membungkus nasi dengan daun. Kemudian dikukus. Metode ini adalah warisan dari almarhumah nenek Aminah. Beliau sering membungkus nasi sisa semalam atau nasi dari kenduri lalu dikukus. Aroma daun pisang membuat makanan menjadi wangi dan saya pun langsung kebayang wajah teduh Simbah Aminah. Allahu yarham.

Kalau nasi hanya sedikit, olahan paling gampang adalah nasi goreng. Siapa sih yang menolak nasi goreng yang ditambah sayur, telur, cabai, tomat, dan bawang merah goreng di atasnya? Auto ngiler kan. Itu kebiasaan saya banget sampai sekarang.

Tidak Menumpuk Makanan

Ini masih pekerjaan rumah bagi saya. Sekarang saya ada satpamnya, yaitu suami. Beliau selalu wanti-wanti kalau saya mau ke pasar. “Beli semua apa yang ada di pasar.” Kalimat sindiran yang selalu saya sambut dengan senyuman.

Sejak Ramadan 1442 H kemarin, produk makanan yang saya simpan pun menipis. Saya dan suami memang sepakat untuk menghabiskan stok makanan yang ada.

Tulis Kedaluarsa di Kemasan dan Buku Khusus

Soal kebiasaan menulis expired sudah saya mulai sejak kuliah. Awalnya saya gunakan pada produk kosmetik. Di samping untuk menghitung penggunaan produk juga untuk menghitung pengeluaran yang harus saya persiapkan ketika produk habis. Kebiasaan ini meniru sahabat saya yang selalu menulis di balik kemasan kosmetik.

Cek Kedaluwarsa Makanan Setiap Minggu

Belum lama, kebiasaan ini saya lakukan. Seminggu sekali saya membuka lemari penyimpanan makanan. Mengecek stok makanan kering yang ada sambil mengecek kedaluwarsa. Produk makanan yang mau expired saya keluarkan atau diletakkan di rak paling atas. Tujuannya agar selalu ingat dan diolah duluan.

Mengolah makanan yang mau expired/expired

Mengolah makanan yang mau expired sudah menjadi kebiasaan saya. Itu sebelum insyaf untuk tidak menumpuk makanan. Namun, terkadang ada yang terlewat karena tidak masuk catatan. Biasanya saya cek kedaluarsa di bungkus kemasan makanan. Lalu cek kualitas produknya. Kalau belum rusak rasa dan produknya, langsung saya masak.

Salah satunya brownies ini. Sudah lewat dua minggu dari tanggal yang tertera di kemasan. Saya masak dan hasilnya masih enak kok. Ke depan saya harus hati-hati untuk tidak membeli hal yang tidak penting. Pelajaran moral hari ini.

Belanja Harian

Ketiadaann kulkas, membuat saya melakukan belanja harian atau dua hari sekali. Beruntung saya hanya perlu jalan kaki 800 langkah sudah sampai pasar. Hitung-hitung olahraga. Namun, bila malas belanja, di rumah ada pohon kelor yang menjulang tinggi, kangkung, dan bayam yang bisa dipetik. Sengaja menanam tanaman itu untuk persiapan kalau malas ke pasar atau karena hujan.

Mulai dari Diri Sendiri

Mengurangi sampah makanan memang harus dimulai dari diri sendiri. Contoh paling gampang adalah ketika mengambil makanan. Ibu dan nenek mengajari saya untuk mengambil makanan sekira habis. Malah, saya kecil terbiasa makan sedikit. Kalau habis, baru boleh ambil. Itu perintah ibu saya.

“Kalau tidak habis, nanti ayamnya mati.” Kalimat ibu yang sering saya dengar. Ketika itu, ibu adalah peternak ayam. Tentu sebagai anak kecil, saya takut ayam ibu mati. Kalau mereka mati, saya tidak bisa makan dan membayar uang sekolah.

Ibu, nenek, dan kakek mengajarkan saya untuk menghabiskan makanan. Tidak boleh ada sisa satu bulir nasi di piring. Mereka selalu bilang, “Nasinya nanti menangis.” Walau belum pernah mendengar nasi menangis, saya kecil mengikut saja.

Kakek malah sering bilang, “Berkah makanan itu di terakhirnya. Namun, tetap ambil secukup daya tamping perut.” Begitulah ajaran orang tua yang saya pakai hingga sekarang. Tak heran bila hingga sekarang, piring saya selalu bersih seperti belum terpakai seusai makanan. Kecuali makanan yang bertulang atau potongan cabai dan bumbu.

Ketika menghadiri perjamuan, saya berusaha kalem tidak mengambil semua makanan yang terhidang. Biasanya saya memilih makanan yang saya belum pernah makan. Ambil satu porsi sudah cukup. Makanan lain, kalau kebetulan bareng suami atau teman, berbagi menu. Jadi bisa saling cicip makanan. Minimal tahu rasanya.

Itu juga berlaku ketika saya dan suami makan di luar. Kalau ada dua menu, kami pesan berbeda. Jadi, aku bisa mencicipi makanan suami, begitu juga sebaliknya. Romantis bukan?

Pilah Sampah Mendulang Rupiah

Kebiasaan memilah sampah bisa mendulang rupiah lho. Selama pandemi, saya tidak membeli pupuk dan bibit untuk tanaman cabai di rumah. Bibit cabai berasal dari biji cabai yang dibuang. Begitu juga pupuk dari sisa sampah makanan. Hasilnya selama cabai naik, saya tidak membeli cabai sama sekali. Kebayang kan betapa hematnya?

Dulu, saya masih memilah sampah dan dijual. Sekarang sampah yang saya pilah, saya berikan ke tukang sampah agar bisa dijual untuk menambah penghasilan.

Mulai Sekarang

Mulai sekarang, yuk ubah kebiasaaan. Mulailah gaya hidup minim sampah seperti yang saya lakukan. Mulai dari hal kecil dulu ya agar tidak memberatkan. Kalau sudah biasa itu asyik kok. Enggak harus buka catatan. Otomatis langsung dijalankan.

Gambar judul oleh RikaC dari Pixabay

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like